Selasa, 15 Januari 2019

Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan normal.Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa.
Dalam memahami anak berkebutuhan khusus atau anak luara biasa, sangat diperlukan adanya pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan (anak berkebutuhan khusus) dan akibat-akibat yang terjadi pada penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut sebagai anak yang cacat dikarenakan mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami penyimpangan atau kelainan, baik dari segi fisik, mental, emosi, serta sosialnya bila dibandingkan dengan nak yang normal.
Karakteristik spesifik anak berkebutuhan khusus pada umumnya  berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional. Karakteristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan sensorik motor, kognitif, kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi social, serta kreatifitasnya.Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik berkebutuhan khusus, akan memerlukan kemampuan khusus guru. Guru dituntut memiliki kemampuan beraitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat setiap anak dalam beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar, berbicara, dan cara besosialisasikan. Hal-hal tersebut diarahkan pada keberhasilan dari tujuan akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah pendewasaan.
1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
  1. Apa pengertian anak berkebutuhan khusus?
  2. Bagaimana Klasifikasi anak berkebutuhan khusus?
  3. Apa saja faktor penyebab anak berkebutuhan khusus?


1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuannya adalah sebagai berikut:
  1.   Untuk mengetahui apa pengertian anak berkebutuhan khusus
  2. Untuk mengetahui Bagaimana klasifikasi anak berkebutuhan khusus
  3. Untuk mengetahui Bagaimana faktor penyebab anak berkebutuhan khusus





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian anak berkebutuhan khusus
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang dalam proses
pertumbuhan atau perkembangan mengalami kelainan atau penyimpangan fisik, mental-intelektual, sosial dan atau emosional dibanding dengan anakanak lain seusianya, sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Anak Berkebutuhan Khusus (dulu disebut sebagai anak luar biasa) didefinisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus
untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. Dalam dunia pendidikan, kata luar biasa merupakan julukan atau sebutan bagi mereka yang memiliki kekurangan atau mengalami berbagai kelainan dan penyimpangan yang tidak alami seperti orang normal pada umumnya. Menurut Aqila Smart, bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya.
Dari beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan anakberkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami kelainan dengankarakteristik khusus yang membedakannya dengan anak normal padaumumnya serta memerlukan pendidikan khusus sesuai dengan jeniskelainannya.


2.2  Klasifikasi anak berkebutuhan khusus
Klasifikasi gangguan anak berkebutuhan khusus menurut Davidson, Neale dan
Kring (2006) terdiri dari gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas, gangguan tingkah laku, disabilitas belajar, retardasi mental, dan gangguan autistik. Sedangkan Syamsul (2010) mengklasifikasikan anak berkebutuhan khusus apabila termasuk kedalam salah satu atau lebih dari kategori berikut ini.
a. Kelainan sensori, seperti cacat penglihatan atau pendengaran
b. Deviasi mental, termasuk gifted dan retardasi mental
c. Kelainan komunikasi, termasuk problem bahasa dan dan ucapan
d. Ketidak mampuan belajar, termasuk masalah belajar yang serius karena kelainan
fisik
e. Perilaku menyimpang, termasuk gangguan emosional
f. Cacat fisik dan kesehatan, termasuk kerusakan neurologis, ortopedis, dan
penyakit lainnya seperti leukimia dan gangguan perkembangan.
Adapun anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru:
1.    Kelompok ABK dilihat dari aspek kecerdasan (intelegensi)
Dari aspek kecerdasan, anak kelompok ini terdiri dari kelompok ABK berintelegensi di atas rata-rata (supernormal) dan kelompok ABK yang berintelegensi di bawah rata-rata (subnormal).
a.    ABK supernormal meliputi:
1)   Super cerdas/gifted (IQ>140),
2)   Sangat cerdas/full bright (IQ 130-140),
3)   Cerdas/rapid (IQ 120-130),
4)   Atas normal (IQ110-120).
b.    Kelompok ABK subnormal (tunagrahita) meliputi:
1)   Bawah rata-rata/dull normal (IQ 80-90)
2)   Moron/ border line (IQ 70-80)
3)   Debil (IQ 60-70)
4)   Imbisil (30-60)
5)   Idiot (IQ<30)
2.    Kelompok ABK dilihat dari aspek fisik/jasmani. Dilihat dari fisik atau jasmani kelompok anak ini dibagi menjadi beberapa kategori yaitu:
a.Tunanetra
Individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas. Tunanetra dibagi menjadi dua yaitu:
1). Kurang awas (low vision), yaitu anak yang masih memiliki sisa penglihatan  sedemikian rupa sehingga masih dapat sedikit melihat atau membedakan gelap dan terang.
2). Buta (blind), yaitu anak yang sudah tidak bisa atau tidak memiliki sisa penglihatan sehingga tidak bida membedakan gelap dan terang.
b.Tunarungu
Yaitu anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak tuna rungu dapat dibagi menjadi:
a)    Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slight losses)
b)   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30- 40 dB (mild losses)
c)    Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 dB(moderate loses)
d)   Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75 dB (severe lossses)
e)    Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 75 dB keatas (profoundly losses)[3]
c.Tunadaksa
Anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menatap pada alat gerak (tulang,sendi,otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Tunadaksa dibagi menjadi dua kategori yaitu:
1)   Tunadaksa orthopedic(orthopedicallyhandicapped) yaitu mereka yang mengalami kelainan kecacatan tertentu sehingga menyebabkan terganggunya fungsi tubuh.
2)   Tunadaaksa syaraf (neurologically handicapped) yaitu kelainan yang terjadi pada anggota tubuh yang disebabkan gangguan pada urat syaraf.
d.Anak Dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalaras)
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya,sehingga merugikan dirinya maupun orang lain.
3.    kelompok ABK dilihat dari aspek atau jenis tertentu
a.    Autisme
Yaitu gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Anak yang mengindap autis pada umumnya  menunjukkan perilaku tidak senang kontak mata dengan orang lain, kurang suka berteman, senang menyendiri dan asyik dengan dirinya sendiri.
b.    Hiperaktif
Istilah hiperaktif berasal dari kata hiper yang berarti kuat, tinggi, lebih, sedangkan kata aktif berarti gerak atau aktifitas jasmani. Dengan demikian hiperaktif berarti anak yang memiliki gerak jasmani yang lebih atau melebihi teman – teman seusianya. Bisa juga dikatakan anak yang memiliki gejala – gejala perilaku yang melebihi kapasitas anak – anak yang normal. Misalnya: tidak dapat duduk dengan waktu yang relatif cukup, senang berpindah – pindah tempat duduk saat kegiatan belajar berlangsung.
c.    Anak berkesulitan belajar anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca,menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor intelegensi (intelegensinya normal bahkan ada yang diatas normal), sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

2.3  Faktor penyebab anak berkebutuhan khusus
Menurut Irwanto, Kasim, dan Rahmi (2010), secara garis besar faktor penyebab anak berkebutuhan khusus jika dilihat dari masa terjadinya dapat dikelompokkan dalam 3 macam, yaitu :
a.       Faktor penyebab anak berkebutuhan khusus  yang terjadi pada pra kelahiran (sebelum lahir), yaitu masa anak masih berada dalam kandungan telah diketahui mengalami kelainan dan ketunaa. Kelainan yang terjadi pada masa prenatal, berdasarkan periodisasinya dapat terjadi pada periode embrio, periode janin muda, dan periode aktini (sebuah protein yang penting dalam mempertahankan bentuk sel dan bertindak bersama-sama dengan mioin untuk menghasilkan gerakan sel ) (Arkanda, 2006). Antara lain : Gangguan Generika (Kelainan Kromosom, Transformasi), Infeksi Kehamilan, Usia Ibu Hamil (high risk group), Keracunan saat Hamil, Pengguguran dan Prematur.
b.      Faktor anak berkebutuhan khusus yang terjadi selama proses kelahiran. Yang dimaksud disini adalah anak mengalami kelainan pada saat proses melahirkan. Ada beberapa sebab kelainan saat anak dilahirkan, antara lain anak lahir sebelum waktunya, lahir dengan bantuan alat, posisi bayi tidak normal, analgesik (penghilang nyeri) dan _anethesia_ (keadaan narkosis), kelainan ganda atau karena kesehatan bayi yang kurang baik. Proses kelahiran lama (_Anoxia_), prematur, kekurangan oksigen, kelahiran dengan alat bantu (_Vacum_), kehamilan terlalu lama: > 40 Minggu.
c.       Faktor penyebab anak berkebutuhan khusus yang terjadi setelah proses kelahiran yaitu masa dimana kelainan itu terjadi setelah bayi dilahirkan, atau saat anak dalam masa perkembangan. Ada beberapa sebab kelainan setelah anak dilahirkan antara lain infeksi bakteri (TBC/ virus), kekurangan zat makanan (gizi,nutrisi), kecelakaan dan keracunan.
Berdasarkan faktor tersebut di atas, sebagian dasar (70,21 persen) anak berkebutuhan khusus disebabkan oleh bawaan lahir, kemudian karena penyakit (15,70 persen) dan kecelakaan/bencana alam sebesar 10,88 persen. Pola yang sama terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan.


BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus  (dulu di sebut sebagai anak luar biasa) di definisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus, dikarenakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.
Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu penguatan kondisi mental orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dukungan sosial yang kuat dari tetangga dan lingkungan sekitar anak berkebutuhan khusus tersebut, dan yang terakhir adalah peran aktif pemerintah dalam menjadikan pelayanan kesehatan dan konsultasi bagi anak berkebutuhan khusus.

b.      Saran
Setelah mengetahui dan memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus, sangat diharapkan bagi masyarakat indonesia terutama bagi para pendidik dalam meyikapi dan mendidik anak yang menyandang berkebutuhan khusus dengan baik dan sesuai dengan diharapkan. Karena pada dasarnya anak seperti itu bukan malah dijauhi akan tetapi didekati dan diperlakukan sama dengan manusia normal lainya akan tetapi caranya yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Jenny Thompson. 2010. Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta.Gelora Aksara Pratama.
Etheses.uin-malang.ac.id
Hadis Abdul.2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung.Alfabeta






Tidak ada komentar:

Posting Komentar