FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
Selain adanya
proses yang bersifat universal dalam perkembangan, setiap orang juga memiliki
perbedaan individual. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mempengaruhi
perkembangan dan hasil perkembangan. Sebagai contoh, manusia bisa berbeda dalam
jenis kelamin, tinggi dan berat badan, kesehatan dan tingkat energi,
inteligensi, kepribadian, temperamen, dan reaksi emosional. Konteks di mana
seseorang tinggal juga berbeda, seperti rumah, masyarakat tempat kita tinggal,
hubungan yang kita punya, jenis sekolah yang dimasuki, serta cara seseorang
menggunakan waktu luang (Papalia, dkk., 2009).
Mengapa satu orang
dapat berbeda dari orang yang lain? Jawabannya adalah karena perkembangan
bersifat kompleks dan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak dapat selalu diukur
secara tepat atau bahkan ditemukan. Ilmuwan sekalipun tidak dapat menjawab
pertanyaan itu sepenuhnya. Bagaimanapun, para ilmuwan belajar banyak tentang
apa yang orang butuhkan untuk berkembang secara normal, bagaimana mereka
bereaksi terhadap berbagai pengaruh yang ada di luar dan di dalam dirinya,
serta bagaimana mereka dapat mencapai potensi mereka sebaik-baiknya. Berikut
ini akan dipaparkan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan
seseorang.
1.
Herediter, Lingkungan, dan Kematangan
Salah satu faktor
yang mempengaruhi perkembangan seorang anak adalah faktor herediter. Tentu Anda
masih ingat apa yang dimaksud dengan faktor tersebut pada saat kita
membicarakan kontroversi nature dan nurture. Selanjutnya,
pengaruh yang lain datang dari lingkungan dalam (inner) dan lingkungan
luar (outer), yaitu dunia di luar diri seseorang mulai dalam rahim
hingga pembelajaran yang berasal dari pengalaman (Papalia, dkk., 2009). Perbedaan
individual meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Banyak perubahan yang
khas pada bayi dan kanak-kanak awal, seperti kemampuan berjalan dan bicara,
yang umumnya berhubungan dengan kematangan tubuh dan otak. Sejalan anak tumbuh
menjadi remaja dan dewasa, perbedaan individual dalam karakteristik bawaan dan
pengalaman hidup memainkan peran yang lebih besar (Papalia, dkk., 2009). Proses-proses yang akan dilalui oleh setiap
orang bervariasi dalam tempo dan waktu. Meskipun dalam modul-modul selanjutnya
kita akan berbicara tentang milestones atau tanda-tanda perkembangan
yang terkait pada usia tertentu, usia tersebut semata-mata merupakan rata-rata
untuk terjadinya peristiwa tertentu. Misalnya, anak rata-rata mampu berjalan
pada usia 12 bulan dan berbicara pada usia 14 bulan. Namun, apabila terjadi
penyimpangan yang sangat ekstrim dari rata-rata yang ada, kita harus mulai
mempertimbangkan bahwa “ada sesuatu” yang terjadi pada perkembangan anak
tersebut (Papalia, dkk., 2009). Dalam upaya untuk memahami perkembangan
manusia, kita perlu mempertimbangkan bagaimana faktor herediter dan lingkungan berinteraksi.
Kita perlu memahami perkembangan mana yang sangat dipengaruhi oleh kematangan
dan mana yang tidak. Kita perlu mengetahui hal-hal yang mempengaruhi sebagian
besar orang pada usia atau waktu tertentu berdasarkan sejarah. Juga hal-hal
yang mempengaruhi orang secara individual. Selanjutnya, kita juga perlu melihat
bagaimana faktor waktu dapat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan
seseorang (Papalia, dkk., 2009).
2.
Konteks Perkembangan
Manusia adalah
makhluk sosial. Sejak awal, mereka berkembang dalam konteks sosial. Secara
umum, konteks yang langsung berhubungan dengan seorang bayi adalah keluarga.
Pada gilirannya, keluarga adalah bagian dari pengaruh perubahan yang lebih
besar, yang meliputi lingkungan tempat tinggal dan masyarakat luas (Papalia,
dkk., 2009).
a.
Keluarga
Ada dua bentuk
susunan keluarga yang umum ditemukan, yaitu nuclear family dan extended
family. Nuclear family atau keluarga inti/keluarga batih dapat
diartikan sebagai unit rumah tangga yang terdiri dari satu atau dua orang tua dan
anak-anak mereka, baik anak biologis, anak adopsi, atau anak tiri. Bentuk keluarga
seperti ini dominan di dalam masyarakat Barat. Extended family atau keluarga besar merupakan
jaringan hubungan multigenerasi yang terdiri dari kakek-nenek, paman-bibi, sepupu,
dan saudara-saudara yang lebih jauh hubungannya (Papalia dkk., 2009). Bentuk
keluarga seperti ini merupakan bentuk keluarga tradisional (Papalia dkk., 2009)
dan banyak ditemukan dalam masyarakat. Dengan makin banyaknya orang tua yang
bekerja di luar rumah, anak-anak menerima lebih banyak pengasuhan dari sanak
keluarga, bahkan dari orang yang tidak ada hubungan keluarga sama sekali,
misalnya pembantu atau pengasuh anak. Jika orang tua bercerai, anak mungkin
akan tinggal dengan salah satu dari orang tua atau mungkin berpindah
mondar-mandir antara rumah kedua orang tuanya. Rumah tangga mungkin pula akan
meliputi orang tua tiri dan saudara tiri. Kesemuanya itu tentu akan berpengaruh
pada perkembangan seseorang.
b.
Status sosial ekonomi dan lingkungan tempat
tinggal
Status sosial ekonomi
keluarga didasarkan pada pendapatan dan pendidikan keluarga, serta tingkat
pekerjaan orang dewasa dalam rumah tangga. Sekalipun banyak penelitian
menunjukkan bahwa status sosial ekonomi mempengaruhi proses perkembangan
(seperti interaksi verbal ibu dengan anak-anaknya) dan hasil-hasil perkembangan
(seperti kesehatan dan performa kognitif), pengaruh tersebut terhadap
proses-proses ini bersifat tidak langsung. Status sosial ekonomi yang rendah
biasanya dihubungkan dengan lingkungan tempat keluarga tinggal serta kualitas
dari nutrisi, perawatan kesehatan, dan sekolah yang tersedia untuk mereka
(Papalia dkk., 2009). Kemiskinan, khususnya untuk jangka waktu yang lama,
berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan fisik, kognitif, dan psikososial anak
dan keluarga. Anak dari keluarga miskin lebih rentan untuk memiliki masalah
emosi dan tingkah laku. Perkembangan kognitif serta performa sekolah mereka
juga lebih buruk (Evans dalam Papalia dkk., 2009). Sekali lagi, pengaruh buruk
yang ditimbulkan oleh kemiskinan bersifat tidak langsung. Pengaruh buruk timbul
akibat keadaan emosi orang tua serta praktek pengasuhan yang dilakukan orang
tua terhadap anak. Bagaimanapun, perkembangan yang positif tetap dapat berlangsung
pada anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan (Kim-Cohen, Moffitt, Caspi, &
Taylor dalam Papalia dkk., 2009). Tidak hanya kemiskinan, anak-anak yang
berasal dari keluarga berada juga memiliki risiko terhadap pengaruh negatif
dari status sosial ekonomi orang tuanya. Adanya tekanan untuk berprestasi dan
seringnya mereka ditinggal oleh orang tua dengan kesibukan orang tua
meningkatkan angka penyalahgunaan obat-obatan, kecemasan, dan depresi pada
anak-anak (Luthar & Latendresse dalam Papalia dkk., 2009). Status
sosialekonomi membatasi pilihan tempat tinggal keluarga. Para peneliti mempelajari
bagaimana komposisi lingkungan tempat tinggal dapat mempengaruhi perkembangan
seorang anak. Tinggal dalam lingkungan yang miskin dengan sejumlah besar
pengangguran dapat membuat anak kurang memiliki dukungan sosial yang efektif
(Black & Krishnakumar dalam Papalia, dkk., 2009).
c.
Budaya dan ras/kelompok etnik
Budaya mengacu
pada keseluruhan cara hidup dari masyarakat atau kelompok meliputi adat,
tradisi, belief (keyakinan), nilai, bahasa, dan produk-produk fisik dari
alat hingga karya seni (Papalia dkk., 2009). Semua tingkah laku tersebut
dipelajari dan diwariskan pada anggota-anggota kelompok masyarakat di budaya
tersebut. Dalam keluarga, nilai-nilai biasanya diwariskan oleh orang tua kepada
anak-anaknya. Budaya secara konstan berubah. Perubahan ini sering terjadi
karena adanya kontak dengan budaya lain. Sebagai contoh, ketika orang Eropa
sampai ke tanah Amerika, mereka segera belajar dari orang asli Indian tentang
bagaimana caranya menanam jagung. Perkembangan komputer dan telekomunikasi
semakin makin meningkatkan kontak budaya (Papalia, dkk., 1.26 Psikologi
Perkembangan Anak 2009). Di Indonesia, kita juga dapat melihat pengaruh budaya
Tionghoa pada budaya Betawi dalam hal kosakata, pakaian, kesenian, dan
arsitektur. Kelompok etnik terdiri dari orang-orang yang dipersatukan oleh
keturunan/nenek moyang, agama, bahasa, dan atau oleh daerah asal, yang
menyumbang pada perasaan berbagi identitas serta berbagi sikap, belief,
dan nilai-nilai di antara mereka. (Papalia dkk., 2009). Kebanyakan kelompok
etnik memiliki akar yang sama, di mana mereka atau nenek moyang mereka berbagi
budaya dan hal ini berlanjut mempengaruhi cara hidup mereka selanjutnya
(Papalia dkk, 2009). Pola etnik dan budaya mempengaruhi perkembangan dalam hal
komposisi rumah tangga, sumber-sumber sosial dan ekonomi, cara
anggota-anggotanya bertindak satu sama lain, makanan yang dimakan, permainan
yang anak mainkan, cara anak belajar, seberapa baik anak melakukan hal-hal yang
berhubungan dengan sekolah, pekerjaan yang dipilih orang dewasa, serta cara
anggota keluarga berpikir dan memandang dunia (Parke dalam Papalia dkk., 2009).
d.
Konteks historis
Konteks historis
merupakan bagian penting dari studi perkembangan. Konteks ini berkaitan dengan
rentang waktu di mana seseorang hidup (Papalia, dkk., 2009), dan penelitian
saat ini mulai difokuskan pada pengaruh pengalaman tertentu, yang terikat pada
waktu dan tempat, terhadap perjalanan hidup seseorang.
3.
Pengaruh Normatif dan Nonnormatif
Masih ingatkah
Anda apa yang terjadi saat Anda berusia antara 11 dan 13 tahun? Apakah pada
saat itu mulai ada tanda-tanda pubertas? Bagi Anda yang perempuan, apakah Anda
saat itu sudah mengalami menstruasi pertama? Bagi Anda yang laki-laki, apakah
sudah mengalami mimpi basah? Pada usia berapa Anda masuk sekolah dasar?
Pernahkah Anda mendapat undian berhadiah jutaan rupiah? Untuk memahami
kemiripan dan perbedaan dalam perkembangan, kita perlu melihat pengaruh normatif,
yaitu kejadian-kejadian biologis atau yang berhubungan dengan lingkungan yang
mempengaruhi sebagian besar orang di dalam masyarakat dalam cara yang serupa
(Papalia dkk., 2009). Pengaruh normatif terbagi dua, yaitu normative age-graded influences dan normative history-graded influences (Papalia
dkk., 2009). Pengaruh normative
age-graded sangat mirip untuk orang-orang pada kelompok usia tertentu.
Mencakup di dalamnya adalah waktu dari kejadian biologis yang dapat diramalkan
dalam rentang yang normal (Papalia dkk., 2009), misalnya usia saat menstruasi
pertama atau usia dicapainya menopause.
Untuk waktu dari kejadian yang berhubungan dengan lingkungan dapat dicontohkan
dengan usia masuk sekolah yang kurang lebih sama, yaitu antara usia 6 – 7 tahun
atau usia pensiun seseorang yang umumnya merentang dari usia 55 hingga 65
tahun. Normative history-graded
influences merupakan kejadian lingkungan yang signifikan yang
membentuk tingkah laku dan sikap dari sebuah kohort usia atau tingkah laku dan
sikap dari generasi historikal (Papalia dkk., 2009). Kohort adalah sekelompok
orang yang lahir pada waktu yang sama, misalnya orang-orang yang lahir pada
tahun 60-an merupakan orang-orang yang berada dalam satu kohort. Sementara
generasi historikal adalah kelompok orang-orang yang mengalami perubahan hidup
yang sama pada waktu tertentu dalam kehidupan mereka, misalnya demam gaya tari breakdance populer untuk
anak-anak muda pada tahun 80-an. Selain pengaruh yang sifatnya normatif, ada
pula pengaruh yang sifatnya nonnormatif (nonnormative
influences) (Papalia dkk., 2009). Pengaruh-pengaruh tersebut berupa
kejadian-kejadian yang tidak biasa, yang mempunyai pengaruh besar pada
kehidupan seseorang karena kejadian tersebut mengganggu urutan siklus hidup
yang „normal‟. Di dalamnya meliputi kejadian khusus yang terjadi pada waktu yang
tidak tepat, misalnya mengalami menstruasi pertama di usia 8 tahun atau menikah
di usia belasan, maupun kejadian-kejadian yang tidak biasa, seperti bencana
alam ataupun memenangkan undian.
4.
Pengaruh Waktu: Periode Sensitif atau
Kritis
Periode kritis
adalah waktu tertentu ketika munculnya suatu kejadian ataupun ketidakhadiran
suatu kejadian mempunyai pengaruh khusus pada perkembangan seseorang (Papalia
dkk., 2009). Sebagai contoh, kejadian yang berlangsung pada saat kehamilan.
Jika ibu yang hamil terkena sinar X, memakan obat-obatan tanpa konsultasi
dengan dokter kandungan, atau mengalami penyakit tertentu pada waktu-waktu
tertentu selama kehamilan, bayinya dapat berisiko mengalami masalah tertentu
kelak. Periode kritis juga terjadi di awal masa kanak-kanak. Seorang anak yang
kurang mendapatkan pengalaman tertentu selama periode kritis dapat menunjukkan
hambatan dalam perkembangannya. Konsep periode kritis sebenarnya mendatangkan
kontroversi. Mengapa? Karena banyak aspek perkembangan manusia, bahkan dalam
domain fisik, menunjukkan plasticity, atau kemampuan untuk memodifikasi
performa (Papalia dkk., 2009). Sebagai contoh, anak yang selama usia
kanak-kanak awal tidak distimulasi oleh orang tua dalam kegiatan-kegiatan yang
mengarah pada kemampuan menulis dan membaca (misalnya kegiatan mewarnai,
menarik garis, mengenal bangun-bangun geometri yang berbeda), mungkin akan
mengalami hambatan dalam kemampuan-kemampuan menulis dan membaca ketika ia
mulai bersekolah di sekolah formal, namun hal ini dapat diperbaiki dengan
mengikutsertakan anak dalam terapi remedial.
Sumber :
http://repository.ut.ac.id/4693/1/PAUD4104-M1.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar